Kamis, 18 Desember 2008

Pemberdayaan SDM KBM-WBU


KBM-WBU (Kesatuan Bisnis Mandiri-Wisata, Benih dan Usaha Lain), merupakan struktur organisasi baru dalam tubuh Perum Perhutani, dan hadir sejak dikeluarkannya SK. Nomor 554/ Kpts/ Dir/ 2005 sebagai swakelola perusahaan dalam hal bisnis. Kemudian keputusan tersebut diperbaharui dengan SK. Nomor 301/ Kpts/ Dir/ 2007.
Hal yang menggelitik penulis untuk mengangkat topik ini karena sarat dengan permasalahan yang kompleks disamping perubahan paradigma dalam menjalankan kegiatannya.
Dari sisi komitmen manajemen, seakan juga belum yakin dan bagaimana sebuah bisnis dijalankan. Dalam hal ini masih belum dilakasanakannya pemberdayaan secara sebagian atau bahkan total kepada segenap SDM KBM-WBU tersebut. Kalau kita akan memberdayakan, maka mau tidak mau dan suka tidak suka, maka pelatihan secara intensif harus kita jalankan. memang terdapat satu kendala yang belum teratasi secara tuntas, adalah kompetensi SDM dengan ketiga pilarnya (pengetahuan, keterampilan dan sikap). Disamping kompetensi, maka masih terdapat bebrapa persyaratan ain dalam pra-pemberdayaan, yakni:

Informasi
Makna
Pendelegasian
Budaya Perusahaan
Kerja Tim
Penghargaan Tim (motivasi internal)

Baik, marilah kita kupas satu persatu :
Informasi. Apabila kita berniat untuk lebih menggugah motivasi internal terutama kepada SDM kita, maka kita harus mampu untuk transparan terhadap informasi, disamping membuka pintu informasi seluas-luasnya. Mengapa demikian, karena seseorang akan termotivasi jika tahu persis kemana kita akan dibawa (tujuan perusahaan) dan akhirnya juga tahu dimana peran saya untuk mewujudkan tujuan tersebut, sehingga yang bersangkutan akan terlecut motivasinya. Informasi tersebut, yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan visi, misi, budaya perusahaan, tagerget yang akan dicapai, posisi perusahaan diantara pesaing dalam industri yang sejenis, kerjasana usaha, dll. Masih banyak lagi. Tentunya juga harus memenuhi kriteria atau ketentuan K3AB (kejelesan, ketepatan, konteks, alur dan budaya), sehingga informasi tersebut akurat.
Makna. Hal ini tidak cukup dengan sosialisasi karena sangat terkait dengan hal strategis perusahaan, seperti budaya perusahaan, etos kerja unggul, dll. Sebaiknya disertai dengan ”role model”. Sehingga karyawan faham betul makna dari kehadiran perusahaan, termasuk masalah yang lagi inn saat ini seperti; drop the gun, PHL, PHBM, social corporate responsibility”, dll. Sehingga mereka faham betul dengan icon utama perusahaan tersebut.
Pendelegasian. Ini memang gampang susah. Intinya kembaliu kepada kredibilitas dan akuntabilitas seseorang. Bagaimana dapat diwujudkan, tentu sebelumnya kita harus mengenal dan mengembangkan potensi SDM kita, terutama terhadap kekuatan dan kelemahannya. Dengan banyaknya kewenangan dan tanggungjawab dalam sebuah perusahaan (organisasi modern, red), asumsinya adalah akan memoperkuat posisi internal kita.
Budaya Perusahaan. Kita memimiliki budaya ”PETIK” dengan unsur utama adfalah pemberdayaan, akan tetapi baru sebatas pemberdayaan stakeholders. Kepada karyawan kita belum nampak adanya pemberdayaan. Misalnya tentang pebnempatan karyawan. Sesorang yang punya basic dibidang wisata malahan ditempatkan dibagian yang kurang tepat, seseorang mantal PMPP ditempatkan diwisata. Padahal diadakannya kursus tersebut untuk memenuhi SDM dibidang pengukuran dan perpetaan yang seniornya lulusan SUKMA banyak yang telah memasuki masa pensiun.

Kerja Tim. Ini selama birokrasi masih kental tentunya akan sulit terwujud. Karena disini akan banyak ditemui tim-tim kecil atau tim mandiri dalam sebuah organisasi. Dimana seorang karyawan dapat memiliki pimpinan lebih dari satu (matriks organisasi, red).

Penghargaan. Merupakan hal baru karena yang selama ini kita kenal adalah penghargaan kepada seseorang yang berprestasi. Mengapa penghargaan tim, karena keberhasilan bukan oleh seseorang saja melainkan oleh tim mandiri tersebut, sehingga disini juga akan dapat dilihat kekompakan, kinerja tim melalui kontribusi individu kedalam tim.

Sehingga pemberdayaan juga memerlukan persiapan kearah sana. Pertanyaannya, sudah siapkah dengan kita saat ini. Sehingga bukan kebocoran informasi yang terjadi, bahkan saling menjatuhkan akan tetapi menjadi demikian enaknya situasi kerja yang terjadi, bagaikan dalam sebuah keluarga besar saja, yang saling asih-asah dan asuh.

Penulis sangat peduli dengan wisata, benih dan usaha lain, karena itulah potensi yang saat ini kita miliki. Sehingga marilah kita optimalkan potensi yang ada sesuai dengan aturan dan perlu adanya perubahan dari komitmen manajemen untuk kita bisa berhasil.
Sebagai contoh di wisata, apabila para korwil (koordinator wilayah) perannya diberdayakan secara optimal, dengan mengurangi birokrasi yang ada, maka penulis yakin dalam waktu dekat akan terjadi kejutan di wisata.
Manajer, asisten manajer cukup sebagai supervisor (rendah dan middle) dan memberikan arahan yang jelas dan merangsang tim untuk maksimal dan akan memperoleh penghargaan bila bisa meningkatan pedapatan wisata di sebuah lokasi. Penulis melihat banyak SDM kreatif di wisata, karena kebetulan penulis juga merupakan salah seorang pengampu materi wisata dan pengembangan usaha.

Dengan berbagai pesona alam, keunikan lokasi, atraksi dan sebagainya mapu menjadi bensin yang dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Bagaimana dengan Benih dan Usaha lain. Ini akan mampu memberikan kontribusi nyata kepada perusahaan jika SDM profesional dan adanya komitmen manajemen yang jelas. Karena untuk benih, bibit Perhutani sudah mengantongi sertifikat sebagai salah satu penghasil benih tanaman kehutanan dari Departemen Kehutanan disamping kita memiliki Puslibang di Cepu. Alangkah sayangnya jika potensi alam anugerah Illahi dan asset perusahaan tidak kita berdayakan secara optimal.

Untuk usaha lain perlu definisi yang jelas. Usaha apa saja yang termasuk usaha lain, jangan seperti hanya keranjang sampah, hanya untuk mewadahi sesuatu yang belum diatur. Kita punya SK. 400 dan 433/ 2007, marilah kita defisinisikan dengan jelas termasuk kedalam bentuk kerjasamanya.

Selamat bertugas mitraku di wisata. Aku yakin kamu bisa menghasilkan yang terbaik. Belajarlah dari pengalaman. Kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda. Jangan cepat patah semangat. Perhutani salah satunya berda di pundakmu. Bravo.

Salam,

Gandrie Simbardjo

Minggu, 14 Desember 2008

Perlunya pembinaan dan bimbingan di Pusdiklat SDM Perum Perhutani


Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan pembinaan dan pembimbingan di Pusdiklat SDM.

Pembinaan disini adalah memberikan waktu tambahan kepada siswa untuk memberikan pendalaman terhadap materi yang diampu. Sehingga siswa akan bisa lebih memahami apa yang disampaikan. Hal ini dikarenakan kemapuan setiap orang adalah berbeda, ada yang cepat menyerap dan bahkan ada yang lambat (memerlukan waktu lebih untuk menyerap materi yang sama).

Sedangkan pembimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa menghadapi permasalahan yang ada selama yang bersangkutan mengikuti diklat. Bentuknya bisa ber-macam macam; dapat masalah pribadi, ataupun yang menyangkut hambatan dalam belajar, dlsb-nya


Siapakah yang melakukan pembinaan dan bimbingan di Pusdiklat. Untuk pembinaan tentunya dilakukan oleh pengampu mata pelajaran yang bersangkutan, diluar jam pembelajaran resmi. Hal ini juga bisa sebagai salah satu wujud implementasi pengabdian dan loyalitas dan merupakan ciri bahwa kerja adalah aktualisasi (salah satu dari etos kerja unggul). Karena peran dari pengampu dalam era pembelajaran saat ini bukan hanya memvonis peserta dengan "kata bisa atau tidak" melainkan harus sampai bisa. Karena tugas yang diemban Pusdiklat SDM adalah pengembangan potensi SDM yang ada.

Sedangkan bimbingan bisa dilakukan oleh wali kelas atau petugas yang bertugas sebagai pembimbing siswa tersebut. Sehingga dapat dikatakan disini bahwa bimbingan lebih bersifat kepada hal-hal yang non-teknis, sedangkan membina adalah pada hal yang bersifat teknis.


Mengapa penulis mengangkat bahwasannya pembinaan dan bimbingan dilakukan juga di Pusdiklat Perum Perhutani. Beberapa alasan yang mendasari, antara lain :


1. Peserta memasuki pendidikan sebenarnya juga bekerja, hanya mereka dalam rangka

menambah kompetensinya. Sehingga hal inilah yang mendasari bahwa mengapa pembinaan

dan bimbingan ini harus pula dilakukan di Pusdiklat SDM. Keterbatasan kemampuan dan

kharakteristik orang tua dalam belajar, sebagai pengampu maka kita harus empati kepada

mereka dan permasalahan yang dihadapi. Mengingat mereka umumnya sudah berkeluarga dan

sudah terbentuk "mental model-nya".

2. Pada awalnya terdapat mereka yang berangkat karena tuntutan tugas, dan belum menjiwai

bahwa kerja adalah amanah dan kerja adalah ibadah.

3. Pengelola Diklat juga harus beranggapan bahwa "kerja adalah pelayanan" serta kerja adalah

ibadah.


Beberapa hal diatas yang mendasari pemikiran sebagai salah satu "kawah candradimuka" Perum Perhutani, maka Pusdiklat SDM juga harus sudah mulai memikirkan untuk merubah "paradigma dalam mengelola SDM untuk dikembangkan potensinya.


Dari bahasan diatas, maka Pusdiklat SDM harus juga mengoptimalkan peran S-1 psikologi yang ada untuk keperluan bimbingan tersebut, disampaing didukung oleh peran yang lain, seperti wali kelas, dlsb. Apabila perlu lebih meningkatkan kompetensi S-1 psikologi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga kedepan perusahaan yang memerlukan tenaga mereka dalam rangka assessment ataupun pengembangan potensi SDM dengan berbasis kompetensi, hal ini tidak akan menyulitkan lagi. Dapat dikatakan kita siap tinggal landas dan menyongsong era millenium ketiga.




Salam,






Widyaiswara Menapak Era Digital


PUSDIKLAT SDM (Pusat Pendidikan dan Pelatihan) Sumberdaya Manusia Perum Perhutani, berada di kota Madiun (atau yang terkenal dengan kota pecel dan lempeng-nya). Dahulu kala berawal dari 2 (dua) Pusdik, yang berlokasi di Madiun dan Cepu. Kemudian tetap bernama Pusdik akan tetapi telah bergabung antara Pusdik Cepu dan Madiun, kemudian berubah nama menjadi Puslatbang (Pusat Pelatihan dan Pengembangan) SDM atau P3SDM. Bagaimana dengan mantan Pusdik Cepu. Pusdik ini kemudian beralih fungsi menjadi Puslitbang (Pusat Penelitian dan Pengembangan) yang awalnya bernamaTeak Centre Perum Perhutani, karena kebetulan penulis ikut membidani kelahiran Teak Centre tersebut, khususnya pada monumen dan pembuatan tanaman (lokal dan manca negara), laboratorium dan kebun pangkas.Teak Centre tersebut dalam pembangunannya melibatkan berbagai lembaga swasta dan perguruan tinggi negeri, seperti; UNPAD, UGM serta lembaga swasta (konsultan pembangunan) dari LAPI-ITB.




Selanjutnya Pusdiklat SDM Perum Perhutani dalam menyongsong tantangan jaman, mengemban misi keempat perusahaan, yakni membangun sumberdaya manusia perusahaan yang bersih, berwibawa dan profesional. Pertanyaanya adalah sanggupkah kita mewujudkan itu sebagaimana diamanatkan oleh misi keempat kita. Maka tentu jawabannya terpulang kepada niat dari sumberdaya manusia perusahaan dan komitmen manajemen.




Dari sisi niat. Maka kembali kempada niat seseorang untuk menjadi apa. Katakan menjadi sumberdaya manusia profesional, maka kita harus mau memahami untuk meningkatkan kompetensi dibidang tugas kita masing-masing. Menurut khabar, bahwa sebentar lagi kita akan memasuki era; CB-HRM (competency based human resource management). Berarti kompetensi seseorang yang akan menjadi indikator penilaian kinerja. Demikian juga dengan SK. 987/ Kpts/ Dir/ 2007 yang telah tersirat mengisyaratkan pentingnya kompetensi. Mengapa demikian karena piola karir seseorang tidak lagi berdasarkan masa kerja, akan tetapi berdasarkan kompetensi. Apabila seseorang dipandang layak menduduki jabatan tertentu, maka bisa saja "menyalip" seniornya. Hal lain yang harus diperhatikan selain kompetensi adalah penghayatan dalam kerja, sesuai dengan etos kerja unggul dari seorang profesional. Menurut pakar etos kerja, Yansen Sinamo terbagai kedalam delapan etos berikut ciri-nya. Penulis membuat jembatan keledai dengan etos kerja "PARAS-APIK". Sedangkan terkait dengan komitmen manajemen adalah "keterbukaan, transparansi" sebagaimana disyaratkan dalam tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) yang telah dikeluarkan oleh PBB atau yang dilansir oleh ADB (Asian Development Bank) beberapa waktu yang lalu guna menyongsong era globalisasi 2015, dengan salah satu persiapannya adalah membangun ICT (information and communication technology), dimana hal ini juga telah diwujudkan tahun 2002 dengan mulai membangun "community access point" dengan programnya yang dinamakan dengan JIEMI (jaringan infrastruktur elekronik masyarakat Indonesia) diawali di 5 kota dan akhirnya berkembang di 10 kota di Indonesia.




Dengan telah dicanangkannya oleh pemerintah, untuk bagaimana kita menyikapi tantangan gobal masa mendatang, maka mau tidak mau, suka tidak suka, maka Pusdiklat SDM juga harus berubah untuk menga-akomodir tuntutan eksternal dan mempersiapkan diri dalam lingkungan internal perusahaan, khususnya dalam hal pembelajaran. Mengingat akan peran Pusdiklat SDM sebagai "learning centre" perusahaan dengan mottonya "kretharta karya samuha" (keberhasilan melalui kebersamaan). Untuk ityu, marilah kita pikirkan bersama kemajuan "learning centre" yang kita miliki, yang bertugas mempersiapkan kader SDM yang mengawal berputarnya roda perusahaan.




Kemajuan informasi dan teknologi, sudah mensyaratkan bahwa dalam dunia pembelajaran-pun kita harus mulai mempersiapkan, seperti apa yang saya tulis dengan "widyaiswara menyongsong era digital" diatas. Mengapa Pusdiklat SDM kok penulis langsung menuju kepada widyaiswara-nya, ytentu ada dalihnya. Dasarnya sesuai dengan keputusan menteri Nomor PER/ 66/ M.PAN/ 6/ 2005, ditegaskan bahwa tugas dan kewenangan widyaiswara (bab III pasal 6), yakni; menganalisis kebutuhan pelatihan, menyusun bahan ajar (buku teks, hand-out) peserta Diklat, melaksanakan pembelajaran (mengajar, melatih) serta mengelola program diklat. Itu semua harus dilakukan dengan ICT (information and communication technology). Kita juga harus merubah situasi dalam proses diklat, karena sebagaimana disampaikan oleh pakar widyaiswara dan teknologi pembelajaran Ir. Lintang Suharto Rivai, DEA (2007) dalam bukunya "widyaiswara menapak era digital" dengan menyitir apa yang disampaikan Malcom Knowles, bahwa kharakteristik pembelajaran orang dewasa dengan metodenya yang dikenal dengan "andragogi", harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :




1. Orang dewasa umumnya menginginkan kebebasan, tidak dipenuhi dengan aturan-aturan


2. Telah memiliki pengalaman dalam bekerja, sehingga juga memiliki banyak informasi


3. Umumnya sudah terbentuk dan memiliki nilai yang membentuk "mental model" mereka


4. Kegairahan belajar dan kesabaran telah mulai menurun


5. Selalu cenderung mengubungkan pengetahuan baru dengan hal-hal yang telah diketahui




Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif dengan ditunjang sarana pembelajaran yang mampu mengakomodit "ICT", maka beberapa hal harus dilakukan oleh Pusdiklat SDM. Sehingga nantinya betul-betul mampu melahirkan SDM handal, yang tentunya sangat dibutuhkan perusahaan dalam menyikapi tantangan eksternal yang semakin berat.




Beberapa hal yang harus dilakukan antara lain;




1. Komitmen manajemen tentang alokasi anggaran diklat dan persyaratan kompetensi dan


batasan usia maksimal mulai ditempatkan sebagai widyaiswara


2. Sarana penunjang proses pembelajaran


3. Merubah proses pembelajaran, yang terkesan "pedagogi" bukan kepada "andragogi"


4. Merubah kurikulum dan silabus yang dilakukan melalui proses analisa kebutuhan pelatihan yang


tidak hanya kebutuhan teknis akan tetapi juga manajerial, dengan jumlah mata ajaran yang betul-


betul dibutuhkan peserta guna mengantisipasi gliobalisasi ini. Disamping selalu ditunjang


dengan "role play" yang akan mengurangi kejenuhan peserta


5. Jadwal pelaksanaan pelatihan (tidak terlalu padat), seiring dengan usia peserta




Sehingga dalam pembelajaran tentunya hampir senada dengan seorang peresenter yang juga harus memiliki kemampuan menghibur peserta serta ditunjang sarana untuk melakukan materri

Peran Komunikasi Efektif


Sebelum berbicara lebih jauh tentang peran komunikasi, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu dengan apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif dan berbagai perannya.
Komunikasi efektif dari namanya saja sudah bisa dipahami tentunya memiliki dayaguna yang tinggi. Sehingga komunikasi efektif akan terjadi apabila; 1) terdapat seorang yang menyampaikan pesan (komunikator) dan lawan bicara yang menerima pesan (komunikan), 2) media, atau sarana komunikasinya. Sarana komunikasi dapat berupa yang konvensional sampai yang tercanggih seiring dengan perkembangan IT, 3) pemahaman dari orang yang diajak bicara (terjadi kesepahaman), 4) adanya tanggapan dan uimpanbalik atau reaksi dari orang yang menerima pesan tersebut. Barulah dapat dikatakan komunikasi efektif, yang biasanya termasuk bagian dari hubungan interpersonal. Dengan komunikasi yang efektif, maka peran dari komunikasi tersebut sangatlah besar. Sebagai insan manusia, maka kita juga tidak terlepas dari firman yang ada, seperti yang terdapat dalam surat Al-Hujuurat ayat (13), surat Asy-Syuura ayat (23), dan surat Al-Baqarah ayat (166), ataupun yang lainnya. Kesemuanya mendukung perlunya komunikasi dijalankan yang tentunya secara efektif.
Peran dari komunikasi tersebut sangatlah jelas, yakni; 1) membangun silaturahim diantara sesama manusia, sebagai makhluk sosial, 2) membangun jejaring usaha, dan 3) membangun kepercayaan.

MEMBANGUN SILATURAHIM


Sebagai manusia, maka kita tidak bisa terlepas dari komunikasi. Baik komunikasi dengan istri, anak ataupun teman. Dalam pekerjaanpun kita harus berkomunikasi, yang biasa disebut dengan komunikasi formal ataupun non-formal. Saat ini, justru kita sedang mengalami hambatan dalam komunikasi ini. Sering kita terhambat dalam proeses komunikasi ini, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan dan akhirnya mengarah kepada konflik. Dalam bekerja, sebenarnya terdapat satu jenis komunikasi yang sangat mujarab, yakni komunikasi respektif (saling menguntungkan diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi). Mengapa demikian, karena dalam komunikasi respektif ini terdapat lima prinsip yang harus disepakati oleh para pelaku komunikasi. Kesepahaman tersebut, yakni; 1) berprasangka positip. Artinya kita pada saat berkomunikasi dengan lawan bicara tidak boleh langsung “suudon”, akan tetapi harus selalu berprasangka positif terlebih dahulu. Jangan selalu menggunakan firasat atau asumsi diri sendiri akan tetapi kita harus mampu ber-empati kepada lawan bicara kita. 2) berorientasi pada solusi. Bahwa segala sesuatu, kita harus yakin dapat diselesaikan melalui komunikasi, seperti musyawarah. Sehingga kedua belah fihak yang bersengketa jangan menuruti ego pribadi saja. Apabila demikian, maka akan terjadi stagnasi atau ke-“vacuuman”. 3) spontanitas dan jujur. Artinya “katakan” apa yang ingin dikatakan. Kita juga harus jujur kepada lawan bicara, jangan selalu berbohong. Lama kelamaan, hal ini juga akan terbongkar juga. 4) empati. Kita harus mampu memahami lawan bicara kita dengan totalitas, tidak hanya dari kesan pertama-nya saja. Akan tetapi asal, sikap dan latarbelakang pendidikan harus dipahami secara seksama. Barulah akan terjadi pembicaraan yang enak. 5) jaga perasaan. Artinya kita harus mampu menjaga perasaan lawan bicara. Jangan mendahulukan emosi, yang terkadang melakukan guyonan yang tanpa sengaja sudah menyinggung perasaan lawan bicara.

MEMBANGUN JEJARING USAHA


Antara kedua dan ketiga memiliki keterkaitan yang erat. Artinya bahwa jejaring dapat terbangun apabila kita mampu bersikap positif disamping kita harus mampu menumbuhkan kepercayaan dengan lawan bicara atau siapapun yang kita ajak bicara.
Dalam sebuah usaha, peran dari komunikasi ini sangatlah vital. Karena kita harus mampu membawakan komunikasi respektif, untuk mampu membangun jejaring usaha.

MEMBANGUN KEPERCAYAAN


Komunikasi respektif akan sangat membantu untuk membangun kepercayaan ini. Karena disini akan teruji integritas dan kredibilitas seseorang.
Apabila kita sering berbicara tidak jujur, maka akan mempengaruhi kredibilitas ataupun bahkan integritas kita.


Salam

Rabu, 01 Oktober 2008

Hikmah Kemenangan Buat Perhutani Tercinta


Selamat "Idul Fitri 1429 H", mohon maaf lahir dan batin. Itulah kalimat yang sering terdengar akrab di telinga kita di bulan syawal ini. Semoga filosofi dari idul fitri-pun diresapi oleh seluruh jajaran Perum Perhutan, demi bangkitnya kembali perusahaan kita tercinta.




Semoga semangat idul fitri pun melambari seluruh jajaran perusahaan tercinta. Amin.




Saat ini kita harus bangkit, dengan salah satu yang harus kita wujudkan kepada publik adalah "Perhutani Hijau 2010" yang notabene sebagai sasaran antara menuju visi yang mulia, yakni "menjadi pengelola hutan tropis terbaik didunia". Untuk mewujudkan itu semua juga perlu ditunjang oleh sumberdaya manusia yang profesional, dalam hal kompetensi, mental dan sikapnya.




Semangat kemenangan inilah yang saya maksudkan dapat menjadi api pemicu dalam diri SDM Perum Perhutani, sehingga mampu mewujudkan sasaran antara tersebut dengan baik.




Disamping sasaran antara tersebut tentunya sebagai sebuah perusahaan kita juga memiliki tugas lain, sesuai dengan fungsi manajemen yang dikenal dengan POAC dalam rangka mengelola unsur manajemen (5M) : man, money, method, material dan machine.






Saat ini, unsur manajemen tersebut sebagian besar sudah berada dalam genggaman, kecuali untuk man dan money yang perlu adanya pembenahan. Berarti dengan melaksanakan fungsi manajemen secara baik, maka unsur manajemen tersebut dapat kita kelola. Disamping kita juga melakukan konsolidasi internal dalam rangka penguatan dinamika internal kita sendiri.


Untuk man disamping niatan individu SDM sendiri, jelas merupakan tugas PUSDIKLAT SDM untuk mampu memoles dari sisi ini, yang juga ditunjang dengan komitmen jajaran BOD yang diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan yang dituangkan, sehingga mampu memelihara motivasi SDM dalam kondisi yang tinggi, untuk memujudkan impian ataupun cita-cita yang mulia.


Sekali lagi "semangat kemenangan" ini dapat dijadikan momentum untuk meraih cita-cita. Marilah kita menjadikan pepatah leluhur sebagain pijakan, yakni "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, mulat sarira hangrasawani".



Bravo Perhutani-ku tercinta.





Salam,





Gendruwo Abang


























Minggu, 28 September 2008

Perlunya SDM Profesional Menyikapi Tantangan Zaman


Saat ini perusahaan tercinta kita membutuhkan "energizer" yang lebih, karena sangat diperlukan untuk menyikapi berbagai tantangan lingkungan yang ada, baik lingkungan internal terutama eksternal. Tanpa dukungan SDM Profesional, maka kita tidak dapat bersaing dalam percaturan bisnis, lokal bahkan internasional.

SDM profesional tersebut tentunya pada posnya masing-masing. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca di perhutanibrain, tentang sosok mandor profesional.

Secara umum seseorang dapat dikatakan profesional dibidangnya apabila memiliki ketiga pilar profesional, yakni ditinau dari sisi pengetahun, keterampilan dan sikap kerja. Bahkan saat ini masih diembel-embeli dengan etos kerja dan mentalitas profesional, menurut Mr. Etos Indonesia, yakni Yansen Sinamo (mahaguru Institut Mahardika, Jakarta).

Sebagai contoh seorang yang profesional sebagai SDM pada jenjang jabatan V, maka dia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Pengetahuan

Ilmu Kehutanan

Ilmu Manajemen (tergantung bidang spesifiknya)

- Teknik Komunikasi, Negosiasi

- Peramalan

- Pemasaran

- Manajemen Pelayanan, termasuk CSO dan prinsip pelayanan

- Teknik Presentasi, Impromptu

- Pembuatan Karya Tulis Populer

- Kewirausahaan, Pengembangan Usaha

- Kepemimpinan (termasuk kepada motivasinya dan coaching & councelling)

- Planning, Production and Control (PPC), berkaitan dengan "tools manajemen"

- dll

Ilmu Kepolisian

Ilmu Penggunaan Komputer (termasuk trouble shooting-nya)

Ilmu Klimatologi

Ilmu TOT, terkait juga dengan coaching dan motivasi

Ilmu Kehumasan

Ilmu Sosiologi, Antropologi

- dll


Keterampilan


- Sesuai dengan spesifikasi, misalnya tentang pembuatan Mutasi A/ B, DK Lainnya (301, 316, 306, 304/ 304b, 305, 326, 327, 328, 312, dsb

- Pembuatan BAP Perubahan Kelas Hutan

- Penggunaan SISDH PDE, Neraca SDH

- Evaluasi Tanaman

-dlsb


Sikap Kerja

Jujur, terkait dengan integritas seseorang dan kredibilitas

Transparansi

Ulet (tidak mudah menyerah, atau pantang putus asa)

Kreatif dan Inovatif

dll


Apabila ada yang berkata bahwa tidak perlu dengan persyaratan tersebut, ya bisa saja akan tetapi kita adalah perusahaan bisnis dan kita harus mampu bersaing. Tumbuhkan keunggulan perusahaan melalui tangan-tangan SDM profesional tersebut. Dulu tidak seperti itu, akan tetapi kita hidup dan kita terus berubah. Ibarat "berpacu dengan melody". Sedangkan yang kekal adalah perubahan. Siapa yang tidak mau atau enggan berubah maka tentunya akan binasa dengan sendirinya. Karena budaya kita adalah antara lain kerjasama tim, maka tentu harus ada yang mendorong dan menariknya untuk menyikapi kondisi yang ada tersebut.

Segala sesuatu tentu akan sulit terwjjud tanpa "niat", mampu mandiri, bersikap baik, berani menghadapi tantangan, bersedia belajar dari pengalaman, untuk mampu menang.

Ingat dengan wejangan leluhur juga, bahwa kita harus "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake dan mulat sarira hangrasawani", berani untuk menang tapi tidak sombong akan tetapi harus mawas diri dengan merefleksi setiap hasil yang ada.

Dari sisi etos kerja atau keyakinan yang kita anggap benar saja, seperti "kerja adalah ibadah" atau yang dicirikan bahwa kita harus bekerja dengan serius, akan tetapi penuh kecintaan saja merupakan hal yang amat berat. Bahkan menurut Mr. etos Indonesia masih banyak yang lainnya, yakni "kerja adalah amanah", "kerja adalah rahmat", kerja adalah panggilan", "kerja adalah aktualisasi", kerja adalah seni" kerja adalah kehormatan", dan "kerja adalah pelayanan". Belum cukup untuk menyikapi tantangan yang ada. Ternyata masih harus didukung oleh mentalitas profesional; mentalitas mutu, mentalitas altruistik, mentalitas melayani, mentalitas pembelajar, mentalitas pengabdian, mentalitas kreatif dan mentalitas etis. Jadi menjadi sumberdaya manusia profesional berat. Akan tetapi semuanya terpulang kepada niat. " Kita bisa dan mampu". Itulah semangat yang harus terus dipompa, disamping diperlukan adanya keteladanan dan "role model".

Apabila kita hanya begini-begini saja, bagaimana akan meraih "visi" yang diidolakan, yakni "menjadi pengelola hutan tropis terbaik di dunia". Di sekitar kita saja (Asia Tenggara) saja ada pelor-pelor tajam, seperti Vietnam, Malaisia, Thailand, dan Burma. Dmana mereka juga memiliki kharakteristik yang sama, yakni "Teak Plantation (hasil man made forest and Natural". Belum lagi teknologi mereka bagaikan "siluman". hehehehe.

Kalau dahulu saja, Mahapatih Gajah Mada berhasil mewujudkan "Sumpah Amukti Palapa-nya", apakah kita akan mundur. Maka marilah kita wujudkan impian "menjadi pengelola hutan tropis terbaik dinia" dan perusahaan kita menjadi "the world class company". Kita jalani setapak demi setapak, antara lain kita berhasil memproklamirkan "Perhutani Hijau 2010". Terus kita tapaki lagi dengan berhasil menyusun standar kompetensi SDM sampai kita berhasil mewujudkan sebuah sistem pengelolaan SDM yang baik, penerapan reward and punishment yang jelas, dll. Yang paling utama dan terpenting, kita kaji kembali, apakah "PETIK" sudahmerupakan budaya perusahaan yang tepat dan benar-benar merasuk diseluruh jajaran karyawan dan BOD. Karena ini sebagai pondasi kita kedepan. Ikuti langkah teman-teman kita PT. Astra, PT. Kompas-Gramedia, PT. Nutrifood Indonesia, PTP XIII, sebagai barometer kita, PT. Garuda Indonesia, dan PT. Pertamina. Kalau mereka bisa dan sama makan nasi, mengapa kita tidak. Segera eliminir kesalahan atau kekurangan kita. Dengan semangat "Maju tak Gentar" "Merah Darahku", akan tetapi jangan semangat "Gugur Bunga". hahahahaha

Saya pun sadar mengelola SDH beda dengan mengelola produk manufaktur. Tapi kita harus berubah, untuk menggapai impian kita semua. Oleh karena itu memang dibutuhkan hadirnya orang yang tepat. Andakah itu orangnya ????. Ayo, tampil kedepan, jangan hanya "menggerundel" saja dan bahkan membuat issue dan memprovokasi saja.

Bravo Perum Perhutani.



Salam hangat,




Empu Gandrie, Lempeng Madiun




Minggu, 21 September 2008

Komunikasi Jembatan Silaturahmi


Perum Perhutani tercinta, dalam penerapan PHBM saat ini masih sangat "berat" untuk bergeming. Berbagai kendala ada disana, terutama dalam hal komunikasi. Sebagai makhluk hidup kita tidak dapat terlepas dari komunikasi. Sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Hujuurat (13) dan Asy-syuura (23) dan Al-Baqarah (166). Peran komunikasi sendiri sudah jelas, yakni sebagai jembatan penyampai informasi, saling silaturahi diantara yang berkomunikasi serta membangun kepercayaan. Terutama yang ketiga ini, tentunya akan menunjang kredibilitas Perum Perhutani dimata stakeholder-nya. Kalau petugas Perum Perhutani di lapangan jarang srawung, baik dalam acara formal maupun in-formal tentunya hal ini juga dapat menjadi batu sandungan dalam mempercepat laju PHBM itu sendiri.

Sebagai sumberdaya profesional, yang ditunjang pula dengan "etos kerja dan mentalitas" profesional sebagaimana ditekankan dalam misi ke empat perusahaan, maka sumberdaya manusia Perum Perhutani juga harus berubah, dengan memegang semboyan "nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake dan mulat sarira hangrasawani".

Teman-teman tercinta. Untuk menyikapi bagaimana peran sebagai sumberdaya manusia yang profesional di PUSDIKLAT SDM sendiri, mulai dari DIKLAT DASAR sampai SUSPIM juga telah dikembangkan materi komunikasi, dasar penyuluihan, penulisan makalah sampai kepada teknik presentasi. Hal ini tak lain, kisalnya seorang pejabat jenjang IV yang pada saat rapat diminta melakukan "impromptu"(presentasi mendadak), maka paling tidak juga tidak akan memalukan dan Perum Perhutani tidak akan dipandang sebelah mata oleh instansi yang lain.

Kalau kita tidak suka mengembangkan komunikasi, maka sebaiknya "kembali" ke jaman batu. Dimana komunikasinya dilakukan hanya secara non-verbal saja.

Tentu kita tidak akan mundur dalam menyikapi tantangan yang ada. Melainkan tantangan tersebut haruslah kita songsong, bahkan apabila kita memiliki kemampuan lebih maka seyogyanya kita balikkan ancaman tersebut menjadi sebuah peluang. Terutama peluang dalam "meraih masa" masyarakat untuk mendukung program keja Perum Perhutani, mulai dari persemaian sampai kepada pengaman hutan. Apalagi kedepan kita juga mulai harus mengurangi penggunaan senjata. Sehingga komunikasi akan menjadi sangat penting perannya, baik berupa persuasi ataupun negosiasi. Karena sekarang masyarakat juga semakin pintar dan sudah jaman keterbukaan, maka penggunaan teknik komunikasi seperti kompulatif dan koersipun harus kita kurangi dan memperbanyak penggunaan teknik persuasi dan pervasi dalam melakukan pendekatan masyarakat.

Saya juga salut kepada beberapa teman lulusan DKP-I TK yang berusaha untuk terus mengembangkan kemampuan komunikasi dan penyuluhannya. Bravo Perhutani. Melalui komunikasi, marilah kita bangun kejayaan Perhutani kembali.