Rabu, 01 Oktober 2008

Hikmah Kemenangan Buat Perhutani Tercinta


Selamat "Idul Fitri 1429 H", mohon maaf lahir dan batin. Itulah kalimat yang sering terdengar akrab di telinga kita di bulan syawal ini. Semoga filosofi dari idul fitri-pun diresapi oleh seluruh jajaran Perum Perhutan, demi bangkitnya kembali perusahaan kita tercinta.




Semoga semangat idul fitri pun melambari seluruh jajaran perusahaan tercinta. Amin.




Saat ini kita harus bangkit, dengan salah satu yang harus kita wujudkan kepada publik adalah "Perhutani Hijau 2010" yang notabene sebagai sasaran antara menuju visi yang mulia, yakni "menjadi pengelola hutan tropis terbaik didunia". Untuk mewujudkan itu semua juga perlu ditunjang oleh sumberdaya manusia yang profesional, dalam hal kompetensi, mental dan sikapnya.




Semangat kemenangan inilah yang saya maksudkan dapat menjadi api pemicu dalam diri SDM Perum Perhutani, sehingga mampu mewujudkan sasaran antara tersebut dengan baik.




Disamping sasaran antara tersebut tentunya sebagai sebuah perusahaan kita juga memiliki tugas lain, sesuai dengan fungsi manajemen yang dikenal dengan POAC dalam rangka mengelola unsur manajemen (5M) : man, money, method, material dan machine.






Saat ini, unsur manajemen tersebut sebagian besar sudah berada dalam genggaman, kecuali untuk man dan money yang perlu adanya pembenahan. Berarti dengan melaksanakan fungsi manajemen secara baik, maka unsur manajemen tersebut dapat kita kelola. Disamping kita juga melakukan konsolidasi internal dalam rangka penguatan dinamika internal kita sendiri.


Untuk man disamping niatan individu SDM sendiri, jelas merupakan tugas PUSDIKLAT SDM untuk mampu memoles dari sisi ini, yang juga ditunjang dengan komitmen jajaran BOD yang diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan yang dituangkan, sehingga mampu memelihara motivasi SDM dalam kondisi yang tinggi, untuk memujudkan impian ataupun cita-cita yang mulia.


Sekali lagi "semangat kemenangan" ini dapat dijadikan momentum untuk meraih cita-cita. Marilah kita menjadikan pepatah leluhur sebagain pijakan, yakni "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, mulat sarira hangrasawani".



Bravo Perhutani-ku tercinta.





Salam,





Gendruwo Abang


























Minggu, 28 September 2008

Perlunya SDM Profesional Menyikapi Tantangan Zaman


Saat ini perusahaan tercinta kita membutuhkan "energizer" yang lebih, karena sangat diperlukan untuk menyikapi berbagai tantangan lingkungan yang ada, baik lingkungan internal terutama eksternal. Tanpa dukungan SDM Profesional, maka kita tidak dapat bersaing dalam percaturan bisnis, lokal bahkan internasional.

SDM profesional tersebut tentunya pada posnya masing-masing. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca di perhutanibrain, tentang sosok mandor profesional.

Secara umum seseorang dapat dikatakan profesional dibidangnya apabila memiliki ketiga pilar profesional, yakni ditinau dari sisi pengetahun, keterampilan dan sikap kerja. Bahkan saat ini masih diembel-embeli dengan etos kerja dan mentalitas profesional, menurut Mr. Etos Indonesia, yakni Yansen Sinamo (mahaguru Institut Mahardika, Jakarta).

Sebagai contoh seorang yang profesional sebagai SDM pada jenjang jabatan V, maka dia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Pengetahuan

Ilmu Kehutanan

Ilmu Manajemen (tergantung bidang spesifiknya)

- Teknik Komunikasi, Negosiasi

- Peramalan

- Pemasaran

- Manajemen Pelayanan, termasuk CSO dan prinsip pelayanan

- Teknik Presentasi, Impromptu

- Pembuatan Karya Tulis Populer

- Kewirausahaan, Pengembangan Usaha

- Kepemimpinan (termasuk kepada motivasinya dan coaching & councelling)

- Planning, Production and Control (PPC), berkaitan dengan "tools manajemen"

- dll

Ilmu Kepolisian

Ilmu Penggunaan Komputer (termasuk trouble shooting-nya)

Ilmu Klimatologi

Ilmu TOT, terkait juga dengan coaching dan motivasi

Ilmu Kehumasan

Ilmu Sosiologi, Antropologi

- dll


Keterampilan


- Sesuai dengan spesifikasi, misalnya tentang pembuatan Mutasi A/ B, DK Lainnya (301, 316, 306, 304/ 304b, 305, 326, 327, 328, 312, dsb

- Pembuatan BAP Perubahan Kelas Hutan

- Penggunaan SISDH PDE, Neraca SDH

- Evaluasi Tanaman

-dlsb


Sikap Kerja

Jujur, terkait dengan integritas seseorang dan kredibilitas

Transparansi

Ulet (tidak mudah menyerah, atau pantang putus asa)

Kreatif dan Inovatif

dll


Apabila ada yang berkata bahwa tidak perlu dengan persyaratan tersebut, ya bisa saja akan tetapi kita adalah perusahaan bisnis dan kita harus mampu bersaing. Tumbuhkan keunggulan perusahaan melalui tangan-tangan SDM profesional tersebut. Dulu tidak seperti itu, akan tetapi kita hidup dan kita terus berubah. Ibarat "berpacu dengan melody". Sedangkan yang kekal adalah perubahan. Siapa yang tidak mau atau enggan berubah maka tentunya akan binasa dengan sendirinya. Karena budaya kita adalah antara lain kerjasama tim, maka tentu harus ada yang mendorong dan menariknya untuk menyikapi kondisi yang ada tersebut.

Segala sesuatu tentu akan sulit terwjjud tanpa "niat", mampu mandiri, bersikap baik, berani menghadapi tantangan, bersedia belajar dari pengalaman, untuk mampu menang.

Ingat dengan wejangan leluhur juga, bahwa kita harus "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake dan mulat sarira hangrasawani", berani untuk menang tapi tidak sombong akan tetapi harus mawas diri dengan merefleksi setiap hasil yang ada.

Dari sisi etos kerja atau keyakinan yang kita anggap benar saja, seperti "kerja adalah ibadah" atau yang dicirikan bahwa kita harus bekerja dengan serius, akan tetapi penuh kecintaan saja merupakan hal yang amat berat. Bahkan menurut Mr. etos Indonesia masih banyak yang lainnya, yakni "kerja adalah amanah", "kerja adalah rahmat", kerja adalah panggilan", "kerja adalah aktualisasi", kerja adalah seni" kerja adalah kehormatan", dan "kerja adalah pelayanan". Belum cukup untuk menyikapi tantangan yang ada. Ternyata masih harus didukung oleh mentalitas profesional; mentalitas mutu, mentalitas altruistik, mentalitas melayani, mentalitas pembelajar, mentalitas pengabdian, mentalitas kreatif dan mentalitas etis. Jadi menjadi sumberdaya manusia profesional berat. Akan tetapi semuanya terpulang kepada niat. " Kita bisa dan mampu". Itulah semangat yang harus terus dipompa, disamping diperlukan adanya keteladanan dan "role model".

Apabila kita hanya begini-begini saja, bagaimana akan meraih "visi" yang diidolakan, yakni "menjadi pengelola hutan tropis terbaik di dunia". Di sekitar kita saja (Asia Tenggara) saja ada pelor-pelor tajam, seperti Vietnam, Malaisia, Thailand, dan Burma. Dmana mereka juga memiliki kharakteristik yang sama, yakni "Teak Plantation (hasil man made forest and Natural". Belum lagi teknologi mereka bagaikan "siluman". hehehehe.

Kalau dahulu saja, Mahapatih Gajah Mada berhasil mewujudkan "Sumpah Amukti Palapa-nya", apakah kita akan mundur. Maka marilah kita wujudkan impian "menjadi pengelola hutan tropis terbaik dinia" dan perusahaan kita menjadi "the world class company". Kita jalani setapak demi setapak, antara lain kita berhasil memproklamirkan "Perhutani Hijau 2010". Terus kita tapaki lagi dengan berhasil menyusun standar kompetensi SDM sampai kita berhasil mewujudkan sebuah sistem pengelolaan SDM yang baik, penerapan reward and punishment yang jelas, dll. Yang paling utama dan terpenting, kita kaji kembali, apakah "PETIK" sudahmerupakan budaya perusahaan yang tepat dan benar-benar merasuk diseluruh jajaran karyawan dan BOD. Karena ini sebagai pondasi kita kedepan. Ikuti langkah teman-teman kita PT. Astra, PT. Kompas-Gramedia, PT. Nutrifood Indonesia, PTP XIII, sebagai barometer kita, PT. Garuda Indonesia, dan PT. Pertamina. Kalau mereka bisa dan sama makan nasi, mengapa kita tidak. Segera eliminir kesalahan atau kekurangan kita. Dengan semangat "Maju tak Gentar" "Merah Darahku", akan tetapi jangan semangat "Gugur Bunga". hahahahaha

Saya pun sadar mengelola SDH beda dengan mengelola produk manufaktur. Tapi kita harus berubah, untuk menggapai impian kita semua. Oleh karena itu memang dibutuhkan hadirnya orang yang tepat. Andakah itu orangnya ????. Ayo, tampil kedepan, jangan hanya "menggerundel" saja dan bahkan membuat issue dan memprovokasi saja.

Bravo Perum Perhutani.



Salam hangat,




Empu Gandrie, Lempeng Madiun




Minggu, 21 September 2008

Komunikasi Jembatan Silaturahmi


Perum Perhutani tercinta, dalam penerapan PHBM saat ini masih sangat "berat" untuk bergeming. Berbagai kendala ada disana, terutama dalam hal komunikasi. Sebagai makhluk hidup kita tidak dapat terlepas dari komunikasi. Sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur'an dalam surat Al-Hujuurat (13) dan Asy-syuura (23) dan Al-Baqarah (166). Peran komunikasi sendiri sudah jelas, yakni sebagai jembatan penyampai informasi, saling silaturahi diantara yang berkomunikasi serta membangun kepercayaan. Terutama yang ketiga ini, tentunya akan menunjang kredibilitas Perum Perhutani dimata stakeholder-nya. Kalau petugas Perum Perhutani di lapangan jarang srawung, baik dalam acara formal maupun in-formal tentunya hal ini juga dapat menjadi batu sandungan dalam mempercepat laju PHBM itu sendiri.

Sebagai sumberdaya profesional, yang ditunjang pula dengan "etos kerja dan mentalitas" profesional sebagaimana ditekankan dalam misi ke empat perusahaan, maka sumberdaya manusia Perum Perhutani juga harus berubah, dengan memegang semboyan "nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake dan mulat sarira hangrasawani".

Teman-teman tercinta. Untuk menyikapi bagaimana peran sebagai sumberdaya manusia yang profesional di PUSDIKLAT SDM sendiri, mulai dari DIKLAT DASAR sampai SUSPIM juga telah dikembangkan materi komunikasi, dasar penyuluihan, penulisan makalah sampai kepada teknik presentasi. Hal ini tak lain, kisalnya seorang pejabat jenjang IV yang pada saat rapat diminta melakukan "impromptu"(presentasi mendadak), maka paling tidak juga tidak akan memalukan dan Perum Perhutani tidak akan dipandang sebelah mata oleh instansi yang lain.

Kalau kita tidak suka mengembangkan komunikasi, maka sebaiknya "kembali" ke jaman batu. Dimana komunikasinya dilakukan hanya secara non-verbal saja.

Tentu kita tidak akan mundur dalam menyikapi tantangan yang ada. Melainkan tantangan tersebut haruslah kita songsong, bahkan apabila kita memiliki kemampuan lebih maka seyogyanya kita balikkan ancaman tersebut menjadi sebuah peluang. Terutama peluang dalam "meraih masa" masyarakat untuk mendukung program keja Perum Perhutani, mulai dari persemaian sampai kepada pengaman hutan. Apalagi kedepan kita juga mulai harus mengurangi penggunaan senjata. Sehingga komunikasi akan menjadi sangat penting perannya, baik berupa persuasi ataupun negosiasi. Karena sekarang masyarakat juga semakin pintar dan sudah jaman keterbukaan, maka penggunaan teknik komunikasi seperti kompulatif dan koersipun harus kita kurangi dan memperbanyak penggunaan teknik persuasi dan pervasi dalam melakukan pendekatan masyarakat.

Saya juga salut kepada beberapa teman lulusan DKP-I TK yang berusaha untuk terus mengembangkan kemampuan komunikasi dan penyuluhannya. Bravo Perhutani. Melalui komunikasi, marilah kita bangun kejayaan Perhutani kembali.

Kamis, 14 Agustus 2008

Agenda Transformasi


Saat ini, pada tanggal 14-15 Agustus 2008 PUSDIKLAT SDM memiliki gawe besar, yakni menjadi saksi penetapan rencana strategis jangka panjang (termasuk visioning process dan penggalian nilai-nilai Perusahaan), termasuk pula pemetaan potensi perusahaan melalui inventory serta penetapan pola diklat sebagai salah satu dasar dalam pengembangan potensi SDM perusahaan dengan merujuk pada SK. 987/ Kpts/ Dir/ 2007 serta SK. 301/ Kpts/ Dir/ 2007. Ini merupakan hal yang sangat strategis dan merupakan "tonggak sejarah" yang merupakan bagian pula dari agenda transformasi perusahaan.

Mengapa hal ini menjadi penting sekali, karena tentunya adanya beberapa alasan yang mendasar;

Saat ini perusahaan telah mengembangkan pola karir yang menitikberatkan kepada kompetensi SDM karena berbagai tantangan yang semakin berat, baik internal maupun eksternal. Sehingga SDM perusahaan dituntut menjadi SDM yang profesional, yang tentunya ditunjang pula dengan etos kerja profesional dan mentalitas yang profesional pula. Kita harus berubah, karena yang kekal adalah perubahan. Salut dan "bravo" untuk itu.

1) Rencana inventory jajaran manajemen yang merupakan bagian dari assessment dengan biaya besar, juga perlu dipertimbangkan secara masak, yang tentunya juga harus merujuk kepada nilai-nilai yang "benar-benar diyakini" sebagai nilai yang akan dianut perusahaan secara konsisten demi terwujudnya visi yang luhur. Untuk dapat mewujudkan itu semua, tentu harus adanya "role model" dan bahkan keteladanan dari unsur pimpinan. Disamping sosialisasi dari nilai dan budaya yang akan dikembangkan secara baik dan benar. Inilah yang sekarang menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama, warga Perum Perhutani. Siap dan sanggupkah kita melakoninya, atau hanya akan "nrima" dan akhirnya mati dilindas oleh perubahan lingkungan yang sangat cepat dan berat ini. Konon kata orang tua kita dulu, marilah "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake lan mulat sarira hanyokrowani"

2) Dalam perjalanan penyusunan "competency profile" maupun indikator (key performance index" menuju "human resource base competency (HRBC)" harus pula berlandaskan budaya kerja dan visi yang "mulia dan luhur" dengan tahapan transformasinya yang jelas. Agar hasilnya dapat berdayaguna.

3) Persiapan penilaian kinerja dengan menggunakan "feedback 360 derajad", yang menurut Januar Darmawan dalam Andrias Harefa (sustainable growth) dikatakan dengan selalu memberikan "RRC" (Reward, Recognized and Celebration)" pada SDM berprestasi, yang berdasarkan "peer system" (penilaian dan pengakuan horizontal dalam level jabatan), bukan hanya penilaian dari pimpinan saja.

4) Penjabaran tahapan pencapaian "visi" perusahaan, yang terkait dengan "transformational leadership" pada setiap level manajemen.

5) Penyusunan database SDM secara totalitas dan tervalidasi setiap waktu, sehingga mudah dibaca dan difahami oleh manajemen dalam mengembangkan potensi SDM perusahaan.

6) Penenetapan kebijakan, yang selalu mengacu pada nilai yang dianut perusahaan dengan menerapkan prinsip "VIP" (vision, involvement and persistence) dalam pengelolaan SDH, tentunya cita-cita menjadi "the world class company" akan dapat terwujud.

7) Saat ini, Perum Perhutani belum memiliki "HRD" yang tangguh dengan ketiadaan psikolog yang membidani bidang tersebut, maka sementara waktu dapat menggunakan jasa psikolog yang benar-benar memiliki kapabilitas dibidangnya dalam pengembangan potensi SDM perusahaan. Sehingga prosesnya tidak akan serampangan, tetapi dilakukan secara holistik.


Semua hal diatas akan melambari "agenda transformasi perusahaan". Tanpa dinamika internal yang tangguh melalui SDM-nya, maupun komitmen manajemen yang jelas dan konsisten (3C, Communication, consistency and clearity) dalam prosesnya serta kesepahan semua jajaran dalam menerapkan COC (code of conduct) dari implementasi budaya kerja. Maka semua yang dilakukan akan tercerai berai dan akhirnya "mubadzir". Jadi penerapan agenda transformasi haruslah dilakukan secara "holistic". Bravo Perum Perhutani".

Kalau PT. Pertamina sesama BUMN, dengan mottonya 4C (Clean, convidence, customer focus and competitive)dan 4T (tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu dan tepat tujuan) yang merpakan penjabaran dari Tata Kelola Pertusahaan yang Baik (Good corporate governance) dalam melakukan pelayanan, yang bahkan sekarang keluar slogan "pasti pas". Penerapan hal tersebut poada segenap jajaran manajemen, karena pelayanan publik sendiri telah ditetapkan harus dilakukan secara baik, melalui 10 prinsipnya tertuang dalam SK. 63/ M.PAN/ 2003, tentu akan meng-eliminir terjadinya kesan "WOW" (words on the wall) dalam implementasi budaya perusahaan, seperti PETIK saat ini.

Selanjutnya menyikapi hal tersebut, maka PUSDIKLAT SDM Perum Perhutani, harusnya sekaligus merangkap sebagai lembaga "assessment centre" perusahaan. Karena PUSDIKLAT adalah mesin penggerak perusahaan, sebagaimana PT. TELKOM, sesama BUMN. Tentunya "assessment centre" tersebut harusnya diisi dengan SDM yang benar-benar kompeten dibidangnya, dengan menyekolahkan lagi tenaga S1 psikologi yang saat ini ada. Mengapa dibidang lain, apakah hukum, produksi pemasaran dan industri bisa dilakukan, bagaimana dengan bidang SDM sendiri, yang terkesan hanya sebagai "anak tiri" saja dan klurang memperoleh perhatian.

Semoga, tulisan ini dapat menjadikan renungan bagi teman-teman "rimbawan Perum Perhutani", yang ingin menjadikan Perum Perhutani sebagai "The world class company" dan memenuhi visinya, menjadi pengelola hutan tropis terbaik di dunia. Amin.


Salam dari Lempeng Madiun







Rabu, 25 Juni 2008

Komitmen Untuk Berubah Menyongsong Tantangan Jaman


Salam Rimbawan.


Yuk teman-teman, kita lakukan sebagaimana kata pepatah "rawe-rawe rantas, malang-malang putung dan cancut taliwanda. Kalaupun BUMN lain dengan serangan yang dahsyat dari pesaingnya, seperti PETRONAS, Malaisia yang sekarang sudah mulai menjamur di beberapa wilayah Nusantara (terutama kota besar di P. Jawa, seperti Surabaya dan Semarang, sebentar lagi bahkan Madiun), dan mereka menyikapinya secara totalitas dengan melakukan berbagai transformasi, baik manajerial, SDM, dan budaya perusahaan berikut motto. Marilah sekarang kita juga harus bangkit dengan mengambil kiat da'i kondang, Abdullah Gymnastiar yakni 3M, mulai dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah sekarang juga.

Memang berat, akan tetapi harus kita mulai. Apabila kita tidak ingin ditelan "bumi" begitu saja dan tinggallah "nostalgi" Perum Perhutani sebagai kerajaan yang karam dalam mengarungi perjalanan hidupnya atau siklus hidup perusahaan, karena telah kehilangan "kreativitas dan keinovasian" dari SDM-nya. Sehingga produknya semakin surut saja.


PT. Pertamina bahkan mengajak seluruh lapisan SDM, termasuk tenaga "outsourcing"-nya, untuk menyikapi kondisi yang ada. Dengan melakukan transformasi nyata, terutama bidang SDM sebagai "penyangga" perusahaan. Bahkan untuk menunjang budaya perusahaan dengan dasar "pelayanan prima". Karena bagaimanapun pada era sekarang, yang dinilai konsumen bukan hanya produk, dengan keasan 5P (Probe, Product, Price, Promotion, and Place), akan tetapi sampai kepada pelayanan yang diberikan, dimana mereka juga akan mempertimbangkan hsrspsn, kebutuhan dan keinginan dengan meneropong dua dimensi pelayanan internal, seperi dimensi prosedural dan dimensi prosedural dan dimensi pribadi.

Jajaran manajemen PT. Pertamina bahkan memiliki aspirasi dalam menunjang terselenggaranya "budaya perusahaan", yakni "4C" (Confident, Clean, Customer Focus, dan Competitive" dan dalam pelaksaan pelayanan prima-nya masih diimbangi dengan motto "tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat tujuan". Bahlan masih ditunjang "etos kerja unggul", yakni kerja adalah ibadah, yang tentu implikasinya sangatlah luas dan mendalam, tidak hanya sekedar "masalah duniawi semata". Mereka juga ditunjang komitmen yang tinggi. Sehingga semua lini menerapkannya dengan kesungguhan hati.

Trus bagaimanakah dengan kita ????


Marilah kita berubah, mumpung masih "belum terjadi decline" yang menuju kepada "collapse". Saya yakin kita bisa. Hanya kitalah yang mampu merubah atas seijin-Nya. Karena tidak ada yang mampu merubah nasib suatu bangsa kecuali ummat itu sendiri. Kita awali dengan niat yang tulus, diimbangi dengan jiwa kepemimpinan yang "COGAL" sebagai Creator of Growth and Learning), sikap yang positif, belajar dari pengalaman kita mengelola perusahaan selama berpuluh-puluh tahun) dengan berbagai tantangannya untuk mencapai "keberhasilan"


Met kerja dan salam rimbawan

Sabtu, 21 Juni 2008

Prinsip Dasar Kewirausahaan PP


Beberapa prinsip dasar Kewirausahaan PP, memang diadop dari para wirausahawan sukses (Purdi E. Chandra, Januar Darmawan Cs, dan da'i kondang serta Bapak Pendiri Pendidikan Nasional, Sufi Pemasaran Indonesia dan tokoh etos kerja profesional Jansen Sinamo. Prinsip dasar yang dicuplik antara lain; 3N, 3M, 5B, 7T, TBC dan KCI.

3N adalah :


- Konsep yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara


- Niteni, Nirokake lan Nambahi


- Salah satu konsep dalam keinovasian




3M adalah :


- Konsep dari Abdullah Gymnastiar (da'i kondang)


- Sangat baik dipedomani dalam pengembangan usaha


- Mulailah dari yang kecil, Mulailah sekarang juga, mulailah dari diri sendiri




5B adalah :


- Konsep yang dipegang dalam berusaha oleh Purdi E. Chandra


- Dengan prinsip 5 Berani dalam berusaha


- Bermimpi, mencoba, merantau, sukses dan gagal




7T adalah :


- Kiat pribadi sukses dan unggul


- Konsep dari Abdullah Gymnastiar


- Tenang, Terampil, Terencana, Tertib, Tekun, Tegar, Tawadlu




TBC adalah :


- The "BODOL" Concept (Berani, Optimis dengan duit orang lain atau modal dengkul)


- Konsep dari Andrias Harefa




KCI adalah :


- Konsep dari Abdullah Gymnastiar


- Kerja Keras, Cerdas, Ikhlas




Disamping 3 pilar profesional yang diambil dari kompetensi paripurna atau yang dikenal dengan pilar KSA, etos kerja dan mentalitas profesional, disamping etika dalam membangun jaringan yang diambil dari pengalaman Januar Darmawan Cs serta sustaible growth dari Andria Harefa dan sekilas ESQ dari Ary Ginanjar.


Disamping pengalaman pribadi tim fasilitator, yang didukung oleh wirausahawan muda lokal Shanty Monica, S. Sos (Handy craft, agribisnis), Noorbiantoro, STP (Agribisnis), Neneng Sri Sulastri, SPd, Ir. Slamet Budi Harto, MM (retail), Slamet Sudjatmiko, STP (agribisnis), Handoko, SE dan Suyitno, SPd, MM, dan Ir. Slamet Budiharto (agribisnis).

Materi Kewirausahaan PP


Materi kewirausahaan PP diberikan semenjak diklat dasar sampai dengan diklat kepemimpinan di PUSDIKLAT SDM Perum Perhutani dengan konteks sesuai dengan tingkatannya. Kurikulum ini diberikan semenjak tahun 2003 dan terus disesuaikan, dengan mengadopsi perkembangan eksternal disamping kebutuhan internal juga. Materi ini disampaikan dengan transformasi dari tahap awalnya dititikberatkan pada sumberdaya manusia sebagai calon pelaku, dengan mengenalkan pengertian dari wirausaha sendiri (entrepreneur, intrapreneur, teknopreneur dan co-preneur), motif sekunder manusia (quitter, champer, dan climber), kondisi perusaan terkini (daur hidup Perusahaan), sikap dasar wirausaha (3N, 3M, 5B, 7T, TBC, KCI), cash flow quadrant, etos kerja profesional "PARASAPIK", mentalitas profesional dari Jansen Sinamo, konsep diri dan orientasi seorang wirausaha, dan etika dalam membangun jaringan usaha serta gambaran Sustainable GROWTH dari Andrias Harefa. Selanjutnya baru memperkenalkan potensi perusahaan berikut pengembangannya dan konsep pemasaran modern (what, why, how, dan STV marketting plus Hermawan K) dan untuk Teknis Non Kehutanan ditambah dengan pelayanan prima yang diawali dengan filosofi dan prinsip TQM sampai kepada 10 prinsip dalam pelayanan sertaIndeks Kepuasan Pelanggan. Sedangkan untuk DIKLATPIM-II keatas ditambah dengan analisa usaha dan kelayakan usaha untuk usaha 1 musim dan jangkan panjang (B/C ratio, BEP, ROI, Rentabilitas Ekonomi dan PV berikut discount factor-nya).

Demikian selintas tentang kewirausahaan PP yang disampaikan materi tersebut oleh penulis sendiri, semenjak tahun 2005.