Sabtu, 27 Desember 2008

Komunikasi Respektif v/s Stop The Gun


Mengapa komunikasi perlu dikedepankan, karena saat ini dengan dilakoninya PHL (Pengelolaan Hutan Lestari) sebagai salah satu hal yang harus dilakukan perusahaan apabila tidak ingin mengalami hambatan pada saat masuk ke pasar Eropa khususnya. Dengan pernyataan seperti ini, tentu ada pihak yang protes, lho kok pasar Eropa sedangkan kayu kita banyak dipasarkan di Jawa saja. Itu untuk kayu bulat atau setengah jadi sedangkan produk akhir kita, baik furniture atau lainnya banyak yang pangsa pasarnya di luar sono. Berapa persen perbandingan pangsa pasar ekspor dan dalam negeri. Tentunya lebih banyak dalam negeri, akan tetapi nilai tambahnya meski relatif kecil pangsa pasarnya, sangatlah besar. Apalagi saat ini dengan menurunnya nilai rupiah kita.
Sehingga ketentuan dalam PHL tentunya, suka tidak suka, mau tidak mau haruslah kita turuti agar pangsa pasar kita dapatlah kita akses lagi.
Penulis juga menyadari tentunya pernyataan “stop the gun” juga harus bertahap dan ada prioritasnya, dengan kita memetakan kerawanan hutan kita saat ini. Karena sebetulnya, masih banyak daerah yang sudah dapat dilakukan dengan pendekatan halus, melalui komunikasi.
Tentunya dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi serta dengan bertambah pinternya masyarakat pendekatan dengan kekerasan akan berakhir. Darimana masyarakat pintar, sekarang ini disamping adanya PMDN mandiri, juga ada program yang dinamakan dengan JIEMI (Jaringan Informasi Elektronika Masyarakat Indonesia), yang sudah bergulir semenjak jaman presiden Megawati Sukarnoputri.
Sehingga dengan informasi yang dapat diakses dari mana-mana maka kesempatan mengembangkan portensi diri sangatlah besar. Mudah-mudahan, lho. Bukan malah premanisme yang semakin berkembang sebagai dampak masalah ekonomni dan keluarga.
Mengapa penulis katakan dengan komunikasi respektif. Karena komunikasi banyak macamnya mulai dari komunikasi personal, antar personal, komunikasi efektif dan bahkan komunikasi respektif. Komunikasi respektif dikedepankan karena adanya unsur persuasif dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, dengan cirinya selalu berprasangka positif, berorientasi pada solusi, spontanitas dan jujur, empati dan menggunakan perasaan (tepa selira).
Untuk dapat melakukan komunikasi respektif, maka kita harus menghenal terlebih dahulu komunikasi respektif, komunikasi dengan lawan jenis, unsur kelengkapan sebuh pesan (K3AB), mampu menjadi pendengar yang baik, komponen komunikasi, komunikasi verbal itu sendiri (terbagi kedalam komunikasi formal, in-formal dan non-formal), peran sebuah komunikasi bagi manusia, disamping mengenal jendela johari maupun etika dalam komunikasi dengan lawan bicara.
Komunikasi formal sendiri terbagi lagi kedalam komunikasi vertical, horizontal dan diagonal). Komunikasi respektif nantinya akan sangat mendasari dalam penyuluhan, presentasi (dalam membangun hubungan baik) ataupun negosiasi (dalam pelayanan prima, pemasaran).
Oleh karena itu mengapa materi komunikasi diberikan sejak kursus dasar yang kemudian meningkat kepada penyuluhan atau teknik presentasi dan pada puncaknya DKP-II diberikan penulisan makalah dengan harapan mereka sudah mengenal diksi, ataupun unsure K3AB (kejelasan, ketepatan, konteks, alur dan budaya).
Materi komunikasi ini, nantinya diharapkan disamping akan mendasari dalam menggulirkan program PHBM, juga dalam mendukung “stop the gun” pada saat pemenuhan persyaratan dalam PHL.
Dalam komunikasi juga akan disampaikan bagaimana kelengkapan sebuah pesan, serta bagaimana menyampaikan pesan kepada lawan bicara secara sistematis, antara lain; dengan menjelaskan tindakan yang harus dilakukan beserta manfaatnya. Dengan terbiasanya mereka melakukan itu semua, maka akan memberikan pondasi pada presentasi dimana mereka tiba waktunya harus mampu meyakinkan lawan bicara atau audience dengan DISATE. Inilah yang diperlukan sekarang, sebelum kita mengakhiri “stop the gun” sepenuhnya. Jangan sampai hal ini dilakukan akan tetapi mereka belum siap dengan “senjata lainnya”, maksudnya dengan kemampuan komunikasi. Karena era dunia saat ini, sangatlah mengedepankan informasi, komunikasi dan teknologi. Inilah yang harus kita sadari untuk dilakukan persiapannya sebelum “tinggal landas buat kekerasan”.
Semoga hal ini dapat mengilhami teman-teman yang dilapangan dengan issue “stop the gun”. Kasarnya demikian dibina tidak bisa, maka tiada lain haruslah kita binasakan ???????
Met bekerja.


Salam,

Gandrie S
Widyaiswara Pusdiklat SDM, Madiun

Alumnus dari berbagai pelatihan :
Dirjen PHPA (Pelatih Inti Kebakaran Hutan)
Pro-seeds (New Zealand)
Landcare (New Zealand)
DAS & Lingkungan (Unibraw)
LPPM (Kepemimpinan)
Inderaja (IPB)
INKINDO (Ekolabel)
Jakarta Stock Exchange Expo
Depnaker (TQC, TOT/ Kursil/ GBPP/ SPAP)
Seminar SUGA (Australia)
Seminar SUGINDO (Jakarta)
Multi Training Centre (EQ, AQ)
Divlat PT. Telkom (Komunikasi lintas budaya)
Marketing Plus Institute of Marketing (MIM)
Indolatih Management (TOT, CB-HRM)
John Robert Power (Sikap, Kepribadian)
Dale Carnegie (Kepemimpinan, Presentasi)
Bumi Arasy (TOT)
Yanroo One Team Indonesia (TOT)
HRD Indonesia (TOT, TTO)
Mpu Nala (Empowerment)
LPK. Citratama (Kewirausahaan)
A I S (TOT)

1 komentar:

AIS Training mengatakan...

Wah..temanya tepat banget. Salut buat Bapak yang ide-idenya orisinil, mendarat di Perhutani.
Sedikit usul : silahkan baca Hypnotic Writing (Joe Vitale) sehingga tulisannya semakin mantap..Congrat Pak.